Sekretariat : Jl. Keramat Jati, Nomor 15, Kelurahan Tofa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - NTT
Manufui Cup 2026 Jadi Panggung Pembinaan Atlet Muda : PBVSI NTT Dorong Talenta Desa Tumbuh Sejak SMP

Soe, PBVSINTT.com — Turnamen Bola Voli Mini Antar Pelajar SMP Manufui Cup 2026 tidak sekadar menjadi ajang perebutan juara, tetapi mulai diarahkan sebagai wadah pencarian dan pembinaan bibit atlet bola voli sejak usia dini, Senin (24/8/2026).
Turnamen yang melibatkan 15 tim dari 9 SMP di Kecamatan Santian dan Boking tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (Pengprov PBVSI) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan ini juga mempertemukan sekolah, yayasan, pemerintah kecamatan, orang tua, masyarakat dan organisasi olahraga dalam satu gerakan bersama untuk membuka ruang kompetisi bagi pelajar di wilayah pedesaan.
Mewakili Pemerintah Kecamatan Santian, Jemi Benu mengapresiasi terselenggaranya Manufui Cup 2026. Menurutnya, kompetisi tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan mental dan karakter anak-anak, selain menjadi sarana untuk mengukur kemampuan mereka dalam olahraga bola voli.
Ia menegaskan bahwa tujuan turnamen tidak semata-mata mengejar kemenangan, tetapi bagaimana anak-anak dibentuk menjadi pribadi yang memiliki mental bertanding, sportivitas dan semangat kebersamaan.
“Yang paling penting bukan hanya soal siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana mental, kebersamaan dan sportivitas anak-anak ini dipupuk sejak sekarang. Kita tidak pernah tahu, dari anak-anak yang bertanding hari ini, siapa yang nantinya akan menjadi atlet berprestasi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT Winston Rondo bersama jajaran yang telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, dukungan PBVSI NTT menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat dan anak-anak di wilayah Santian dan Boking untuk terus mengembangkan olahraga bola voli.
Ia berharap anak-anak yang memiliki bakat dapat memperoleh pembinaan berkelanjutan sehingga potensi olahraga yang tumbuh di desa-desa tidak berhenti hanya pada kompetisi tingkat lokal.
Sementara itu, Yunus Benu, yang mewakili Yayasan Tois Uis Neno sekaligus Kepala SMP Kristen 2 Amanatun Selatan, mengatakan Manufui Cup 2026 lahir dari diskusi dan kepedulian bersama terhadap masa depan pembinaan atlet muda di wilayah tersebut.
Menurutnya, banyak anak telah memiliki kemampuan bermain bola voli, tetapi belum mendapatkan ruang kompetisi yang cukup untuk mengembangkan minat, bakat dan prestasi mereka.
“Kalau adik-adik selama ini sudah bisa bermain bola voli, tetapi tidak kita pupuk prestasinya, maka prestasi itu bisa hilang. Karena itu, kita harus mulai mencari dan membina atlet sejak usia dini,” katanya.
Ia menilai jenjang SMP merupakan salah satu fase penting untuk mulai melakukan penjaringan calon atlet. Melalui kompetisi yang teratur, kemampuan anak-anak dapat terlihat sehingga mereka yang memiliki potensi dapat diarahkan untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PBVSI NTT, khususnya Winston Rondo, yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Manufui Cup 2026
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai turnamen perdana, tetapi dapat menjadi agenda yang dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun.
“Anak-anak yang punya minat dan bakat di kampung ini sangat luar biasa. Mereka masih kecil, tetapi sudah mampu bermain melawan pemain yang lebih dewasa. Kalau terus dipupuk dan dibina, bukan tidak mungkin mereka bisa menjadi atlet-atlet hebat yang lahir dari kampung,” ujarnya.
Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT Winston Rondo menyambut positif pelaksanaan Manufui Cup 2026. Ia mengaku bangga dapat hadir langsung di Manufui dan menyaksikan antusiasme pelajar serta masyarakat terhadap olahraga bola voli.
Menurutnya, jarak Manufui yang jauh dari pusat Kota Kupang bukan menjadi hambatan untuk membangun olahraga. Justru dari desa dan kampung seperti Manufui dapat ditemukan talenta-talenta muda yang selama ini belum mendapatkan kesempatan untuk tampil.
“Kalau kita ingin bola voli NTT kuat lima atau sepuluh tahun ke depan, maka kita tidak boleh baru mencari pemain ketika mereka sudah dewasa. Kita harus mulai dari anak-anak SMP seperti yang sedang bermain di Manufui hari ini,” tegasnya.
Ia menilai Manufui Cup 2026 telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pertandingan antarsekolah. Dengan melibatkan 15 tim dari 9 SMP, kegiatan tersebut telah menjadi pesta olahraga masyarakat yang mendapat antusiasme luas.
“Bakat-bakat besar NTT tidak hanya lahir di kota. Banyak mutiara olahraga kita justru sedang tumbuh di desa-desa dan kampung-kampung. Persoalannya adalah apakah kita menyediakan kompetisi untuk menemukan mereka dan pembinaan untuk membuat mereka berkembang,” katanya.
Karena itu, Ia mengatakan Pengprov PBVSI NTT mendorong model turnamen bola voli mini antar-SMP seperti Manufui Cup dapat dikembangkan di berbagai kabupaten atau kota di NTT.
Menurutnya, kompetisi usia dini merupakan bagian penting dari ekosistem pembinaan olahraga karena menjadi pintu masuk untuk menemukan pemain-pemain potensial yang dapat dipersiapkan menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Kepada seluruh peserta, Ia berpesan agar bertanding dengan penuh kegembiraan, keberanian dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Jangan takut kalah. Hari ini kalian mungkin bermain di lapangan sekolah di Manufui, tetapi siapa tahu beberapa tahun lagi ada di antara kalian yang memakai seragam NTT di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan mencetak atlet tidak dapat dilakukan hanya oleh organisasi olahraga. Dibutuhkan ekosistem yang melibatkan sekolah, guru, orang tua, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap olahraga.
“Jangan hanya menunggu atlet hebat muncul. Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat mereka lahir, tumbuh dan menjadi hebat. Dan hari ini, ekosistem kecil itu sedang kita mulai dari Manufui,” tegasnya.
Ia berharap Manufui Cup 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan bola voli dari tingkat paling bawah sekaligus membuka jalan bagi anak-anak di desa untuk bermimpi menjadi atlet berprestasi.(Fendi)


