Sekretariat : Jl. Keramat Jati, Nomor 15, Kelurahan Tofa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - NTT
Voli Belu Kembali Bergairah, Demokrat Cup Jadi Ruang Pembinaan Atlet Menuju PON 2028

Atambua, PBVSINTT.com – Sebanyak 24 tim dari berbagai kelurahan dan kecamatan di Kabupaten Belu ambil bagian dalam Turnamen Bola Voli Antar Kelurahan dan Kecamatan se-Kabupaten Belu yang digelar dalam rangka menyongsong HUT ke-25 Partai Demokrat.
Turnamen yang berlangsung di Lapangan Umum Simpang Lima Atambua, Rabu (26/8/2026), tersebut diikuti 13 tim putra dan 11 tim putri.
Kompetisi ini dijadwalkan berlangsung hingga 9 September 2026.
Turnamen dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST. Pembukaan turut dihadiri Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT Winston Neil Rondo, Ketua KONI Kabupaten Belu Theodorus Manehitu Djuang, pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Belu, jajaran Forkopimda, pimpinan Partai Demokrat, pengurus PBVSI Kabupaten Belu, pimpinan perangkat daerah serta sejumlah undangan lainnya.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan dan membangun kebersamaan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Belu, saya menyampaikan apresiasi kepada Partai Demokrat dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” ujarnya.
Ia meminta seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas dan menghormati setiap lawan selama pertandingan berlangsung.
“Menang dan kalah adalah bagian dari pertandingan, namun persaudaraan dan kebersamaan harus tetap menjadi yang utama,” katanya.
Wakil Bupati juga mengajak para pendukung dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan serta menciptakan suasana pertandingan yang tertib dan penuh kekeluargaan.
Ketua KONI Kabupaten Belu, Theodorus Manehitu Djuang, mengapresiasi penyelenggaraan Demokrat Cup. Menurutnya, turnamen tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali gairah olahraga bola voli di Kabupaten Belu.
Ia mengatakan, bola voli Belu sempat mengalami masa “mati suri” selama beberapa tahun. Namun, terbentuknya kepengurusan baru PBVSI Kabupaten Belu mulai membawa angin segar bagi pembinaan dan kompetisi bola voli.
“Setelah bola voli di Belu sempat ‘mati suri’ bertahun-tahun, kini telah terbentuk kepengurusan baru. Acara sore ini merupakan event kedua di bawah kepengurusan baru,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Ketua PBVSI Kabupaten Belu dan Ketua Umum PBVSI NTT yang terus mendorong perkembangan olahraga bola voli di daerah.
Menurutnya, kehadiran Demokrat Cup juga menunjukkan adanya ruang yang semakin terbuka bagi para atlet untuk kembali bertanding setelah kompetisi bola voli di Belu sempat mengalami kevakuman.
Ia secara khusus memberikan penghargaan kepada Partai Demokrat yang telah membuka ruang bagi para atlet melalui penyelenggaraan turnamen tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Partai Demokrat atas penyelenggaraan turnamen ini. Semoga menjadi bagian dari kebangkitan bola voli di Kabupaten Belu,” katanya.
Ia menilai kompetisi yang digelar secara rutin sangat penting untuk mengasah kemampuan atlet sekaligus menjaring bibit-bibit muda potensial yang dapat membawa nama Kabupaten Belu dan NTT ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, KONI, PBVSI, partai politik dan masyarakat terus diperkuat sehingga pembinaan olahraga di Kabupaten Belu dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT, Winston Neil Rondo, mengatakan turnamen yang tumbuh di kabupaten, kecamatan hingga kampung-kampung harus menjadi bagian penting dari mata rantai pembinaan dan pencarian atlet bola voli NTT menuju PON XXII NTT–NTB Tahun 2028.
Menurutnya kompetisi seperti Demokrat Cup tidak boleh hanya dilihat sebagai pertandingan untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga harus menjadi ruang untuk menemukan talenta-talenta baru.
“Kalau kita ingin melihat olahraga yang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat NTT, datanglah ke kampung-kampung menjelang sore. Ada lapangan sederhana, tiang dan net seadanya. Tetapi ketika bola mulai terbang, anak-anak, orang muda, mama-mama datang dan kampung menjadi hidup. Itulah voli di NTT. Bukan sekadar cabang olahraga, tetapi olahraga rakyat,” katanya.
Ia menilai kehadiran 24 tim dalam Demokrat Cup Belu menunjukkan besarnya potensi sekaligus antusiasme masyarakat terhadap bola voli.
“Saya tidak melihat ini hanya sebagai 24 tim yang datang bertanding. Saya melihat 24 kumpulan mimpi dan talenta. Di antara mereka sangat mungkin ada anak-anak muda Belu yang suatu hari mengenakan seragam NTT,” ujarnya.
Ia memberikan apresiasi kepada Pengkab PBVSI Belu yang terus berupaya menghidupkan pembinaan dan kompetisi bola voli di daerah tersebut.
Apresiasi juga diberikan kepada DPC Partai Demokrat Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Willybrodus Lay yang menginisiasi Demokrat Cup sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong HUT ke-25 Partai Demokrat.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah, organisasi olahraga, partai politik dan masyarakat dalam membuka ruang kompetisi sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem olahraga yang sehat.
“Ketika pemerintah, organisasi olahraga, partai politik dan masyarakat sama-sama memberi ruang bagi olahraga, yang sedang kita bangun bukan hanya sebuah turnamen. Kita sedang membangun generasi,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah turnamen tidak boleh berhenti pada kemeriahan pertandingan atau penyerahan piala kepada juara.
“Turnamen tidak boleh selesai ketika piala dibagikan. Setiap turnamen harus menemukan atlet dan setiap pertandingan harus menjadi ruang pencarian bakat,” katanya.
Karena itu, ia meminta jajaran PBVSI Belu memanfaatkan Demokrat Cup untuk memantau dan mencatat pemain-pemain muda potensial yang tampil sepanjang kompetisi.
“Pantau 24 tim ini. Catat pemain-pemain muda terbaik. Setelah turnamen selesai, mereka harus masuk dalam radar pembinaan. Jangan sampai turnamennya selesai, bakat mereka ikut selesai. Siapa tahu dari Demokrat Cup ini lahir anak Belu yang kelak memperkuat NTT,” ujarnya.
Menurutnya PBVSI NTT saat ini mulai mengarahkan pembinaan menuju agenda besar PON XXII NTT–NTB Tahun 2028.
Status NTT sebagai tuan rumah, katanya, harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembinaan atlet sejak dari kabupaten/kota, klub, sekolah hingga kompetisi-kompetisi lokal.
“Kita tidak boleh hanya sibuk mempersiapkan venue. Venue memang penting, tetapi atlet dan prestasi jauh lebih penting. Venue yang bagus tanpa atlet yang siap bertanding tidak akan menghasilkan prestasi,” tegasnya.
Karena itu, kompetisi seperti Demokrat Cup harus ditempatkan sebagai bagian dari proses menemukan talenta-talenta baru yang selanjutnya dibina secara sistematis dan berkelanjutan.
“Pada PON 2028 kita tidak mau sekadar menjadi tuan rumah. Kita ingin menjadi tuan rumah yang bertanding, berprestasi dan menang di tanah sendiri. Dan pekerjaan menuju ke sana harus dimulai sekarang, dari kabupaten, sekolah, klub dan kampung-kampung,” katanya.
Kepada para atlet, Ia berpesan agar menjadikan kompetisi sebagai tempat menguji kemampuan sekaligus membangun karakter dan sportivitas.
“Bertandinglah habis-habisan, tetapi tetap bersaudara. Hormati lawan, wasit dan penonton. Menanglah tanpa kesombongan dan terimalah kekalahan tanpa kehilangan keberanian. Juara sejati bukan hanya mereka yang mengangkat piala, tetapi mereka yang meninggalkan lapangan dengan kehormatan,” ucapnya.
Turnamen Demokrat Cup Kabupaten Belu 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga menjadi titik awal kebangkitan kembali bola voli Belu sekaligus ruang pemetaan talenta-talenta muda yang dapat masuk dalam radar pembinaan PBVSI Kabupaten Belu dan PBVSI NTT.
Dengan kompetisi yang berlangsung hingga 9 September 2026, Demokrat Cup diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan di Kabupaten Belu serta mempersiapkan atlet-atlet potensial NTT menghadapi PON XXII NTT–NTB Tahun 2028.(*Fendi)


