Sekretariat : Jl. Keramat Jati, Nomor 15, Kelurahan Tofa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - NTT
Ketum PBVSI NTT Buka Turnamen Voli Getsemani Lemadak 1 : 34 Tim Dari Kecamatan Sulamu Turut Ambil Bagian

Oelamasi, PBVSINTT.com – Semangat olahraga, persaudaraan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menyatu dalam pembukaan Turnamen Bola Voli Getsemani Lemadak Cup I di Desa Pariti, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Minggu (11/10/2026).
Turnamen perdana yang diselenggarakan Jemaat GMIT Getsemani Lemadak, Klasis Sulamu, ini mendapat sambutan luar biasa. Sebanyak 34 tim mendaftar dan ambil bagian, berasal dari berbagai jemaat, desa, dan kelurahan di wilayah Kecamatan Sulamu.
Ratusan warga, pemain, dan pendukung memadati lokasi pembukaan. Suasana berlangsung meriah, memperlihatkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap olahraga bola voli sekaligus kuatnya semangat kebersamaan antarjemaat.
Turnamen yang memperebutkan Piala Winston Rondo ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT, Winston Neil Rondo, yang sekaligus menjadi sponsor utama kegiatan.
Hadir dalam pembukaan tersebut Kepala Desa Pariti Melkior Y. Radja, Ketua Majelis Jemaat GMIT Getsemani Lemadak Pdt. Betharia B. N. Ely Manafe, Ketua Panitia Marsalin Sanu, serta Yadi yang mewakili Kapolsek Sulamu.
Dalam sambutannya, Winston Rondo menyampaikan apresiasi atas inisiatif Jemaat Getsemani Lemadak yang berhasil menghadirkan kompetisi olahraga dengan partisipasi luas dari masyarakat Kecamatan Sulamu.
Menurutnya, keterlibatan gereja dalam penyelenggaraan turnamen olahraga merupakan perkembangan positif yang patut didukung dan diperluas.
“Gereja tidak hanya membangun iman, tetapi juga ikut membangun manusia. Melalui olahraga, gereja menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk menemukan bakat, belajar disiplin, membangun karakter, dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran 34 tim dalam turnamen perdana merupakan pencapaian menggembirakan sekaligus menunjukkan bahwa bola voli memiliki basis penggemar dan potensi atlet yang besar di tingkat desa dan kecamatan.
Ia menegaskan bahwa Pengprov PBVSI NTT sedang mendorong tumbuhnya kompetisi bola voli secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, jemaat, klasis, sekolah, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.
Menurutnya, pembinaan atlet tidak boleh hanya bertumpu pada kejuaraan besar di perkotaan. Justru kompetisi-kompetisi masyarakat seperti Getsemani Lemadak Cup menjadi salah satu fondasi penting untuk menemukan dan mengembangkan talenta baru.
“Jangan pernah menganggap kecil turnamen di desa. Bisa jadi, dari lapangan sederhana di Lemadak ini, suatu hari lahir atlet yang membawa pulang medali untuk NTT,” tegasnya.
Ia menghubungkan semangat penyelenggaraan turnamen tersebut dengan agenda besar persiapan NTT menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Menurutnya, persiapan PON tidak cukup hanya dengan membina atlet yang sudah ada. NTT membutuhkan ekosistem olahraga yang hidup, kompetisi yang berkelanjutan, serta semakin banyak anak muda yang memperoleh kesempatan bertanding.
“Kalau kita ingin berprestasi di PON 2028, maka pembinaan harus dimulai dari bawah. Dari desa, sekolah, jemaat, dan kecamatan. Semakin banyak kompetisi, semakin besar peluang kita menemukan bibit-bibit atlet potensial,” jelasnya.
Ia berharap turnamen Getsemani Lemadak Cup tidak berhenti sebagai kegiatan perdana, melainkan dapat berkembang menjadi agenda rutin yang memperkuat pembinaan bola voli di Kecamatan Sulamu.
“Kita mungkin bermain di lapangan desa, tetapi mimpi anak-anak kita tidak boleh berhenti di desa. Dari Lemadak, dari Sulamu, kita bisa mempersiapkan atlet-atlet masa depan NTT,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat Getsemani Lemadak, Pdt. Betharia B. N. Ely Manafe, menekankan pentingnya menjadikan turnamen ini sebagai ruang membangun persaudaraan, bukan sekadar mengejar kemenangan.
Ia mengajak seluruh peserta untuk menjunjung tinggi prinsip fair play, menghormati lawan, menerima keputusan pertandingan, serta menjaga hubungan baik antarpemain dan antarsesama jemaat.
Semangat serupa disampaikan Yadi yang hadir mewakili Kapolsek Sulamu. Ia mengingatkan seluruh peserta, pendukung, dan masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan suasana persaudaraan selama turnamen berlangsung.
Menurutnya, kompetisi olahraga harus menjadi sarana mempererat hubungan sosial masyarakat, bukan menimbulkan perselisihan akibat persaingan di lapangan.
Panitia penyelenggara yang diketuai Marsalin Sanu menyambut antusias tingginya partisipasi peserta. Sebagai penyelenggaraan pertama, keterlibatan 34 tim menjadi modal penting untuk mengembangkan turnamen ini pada tahun-tahun mendatang.
Panitia dan jemaat juga memiliki semangat agar kegiatan olahraga masyarakat seperti ini dapat memberikan kontribusi bagi pembinaan bola voli NTT menuju PON 2028.
Menariknya, Getsemani Lemadak Cup I tidak hanya menghadirkan pertandingan olahraga, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Sekitar 22 hingga 30 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat mendaftar untuk berjualan dan mempromosikan produk selama kurang lebih 14 hari penyelenggaraan turnamen.
Kehadiran para pedagang ini menjadi bukti bahwa kompetisi olahraga masyarakat dapat menghasilkan manfaat ekonomi langsung bagi warga.
Ia mengapresiasi keterlibatan UMKM tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan turnamen di desa perlu terus dikembangkan sebagai kegiatan yang tidak hanya menghasilkan prestasi olahraga, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.
“Ketika turnamen berlangsung, pemain datang, suporter berkumpul, masyarakat berbelanja, dan pedagang kecil memperoleh penghasilan. Inilah salah satu manfaat nyata olahraga bagi kehidupan masyarakat,” katanya.
Ia berharap semakin banyak desa, jemaat, dan organisasi masyarakat di NTT yang berani menyelenggarakan kegiatan olahraga dengan melibatkan pelaku usaha lokal.
Baginya Getsemani Lemadak Cup I memperlihatkan bahwa gereja, masyarakat, pemerintah desa, aparat keamanan, dan organisasi olahraga dapat bekerja bersama menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi generasi muda.
“Olahraga menyatukan kita, gereja memperkuat persaudaraan, dan masyarakat memperoleh manfaatnya. Inilah semangat yang perlu terus kita rawat,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Winston mengajak seluruh tim bertanding dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Jadilah juara dengan rendah hati, dan terimalah kekalahan dengan kepala tegak. Karena kemenangan terbesar dari turnamen ini bukan hanya piala yang dibawa pulang, tetapi persaudaraan yang tetap terjaga,” pungkasnya.
Getsemani Lemadak Cup I pun resmi bergulir, membawa harapan bahwa dari sebuah jemaat di Kecamatan Sulamu, tumbuh semangat baru untuk membangun prestasi olahraga, memperkuat persaudaraan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.(Fendi)


