SMSI CUP I Jadi Panggung Talenta Muda, Ketum PBVSI NTT Sebut Wartawan Tidak Hanya Beritakan Voli : Wartawan Ikut Bangun Voli

Kupang, PBVSINTT.com – Turnamen Bola Voli SMSI Cup I 2026 tidak sekadar menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi diharapkan menjadi panggung untuk menemukan talenta-talenta muda, meningkatkan jam terbang atlet, memperkuat ekosistem bola voli, sekaligus menjadi bagian dari persiapan Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju PON XXII NTT–NTB 2028.

Hal tersebut mengemuka dalam pembukaan Turnamen Bola Voli SMSI Cup I 2026 yang digelar di Auditorim UKAW Kupang , Sabtu (3/10/2026).

Tiga perspektif dari dunia penyelenggaraan, pembinaan olahraga dan organisasi cabang olahraga bertemu dalam satu pesan yang sama: prestasi tidak lahir secara instan, tetapi melalui kompetisi, pembinaan dan kesempatan yang berkelanjutan.

Ketua Panitia SMSI Cup I 2026, Vicko Patty, mengatakan penyelenggaraan turnamen olahraga, khususnya bagi kalangan pelajar, memiliki arti penting dalam memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang bola voli.

Ia berkaca pada pengalaman penyelenggaraan Turnamen Bola Voli Antar-SMA/SMK se-Kota Kupang yang digelar pada 14–21 Oktober 2024.

Turnamen tersebut diikuti 14 tim putra dan 8 tim putri yang berasal dari 12 SMA/SMK dan satu perguruan tinggi se-Kota Kupang. Pertandingan berlangsung di Lapangan Voli Lemdiklat Polda NTT dengan total 41 pertandingan, melibatkan 15 wasit dan 12 hakim garis.

Menurutnya persiapan turnamen dilakukan sejak awal September 2024 dalam kondisi waktu dan fasilitas yang terbatas. Panitia kemudian membentuk tim yang terdiri dari 20 orang serta berkoordinasi dengan PBVSI Pengprov NTT dan berbagai pihak terkait.

“Kami menyadari bahwa persiapan ini tidak mudah. Waktu yang terbatas dan fasilitas yang terbatas menjadi tantangan bagi kami. Namun berkat kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat, akhirnya turnamen ini dapat dilaksanakan dengan lancar dan penuh kegembiraan,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya dilihat dari kelancaran pertandingan, tetapi juga dari kemampuan kompetisi tersebut melahirkan dan menyaring talenta-talenta baru.

“Turnamen ini bisa dikatakan sukses. Mengapa demikian? Karena turnamen berjalan lancar. Di samping sukses penyelenggaraan, turnamen ini juga sukses secara prestasi karena mampu menyaring potensi-potensi muda yang dapat diandalkan,” katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kompetisi pelajar dapat menjadi wadah penting untuk menemukan bibit-bibit atlet yang nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut hingga membawa nama NTT di tingkat nasional.

“Begitu pentingnya turnamen ini, di mana kita bisa melihat potensi-potensi baru dari para peserta yang nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut untuk membawa nama NTT di tingkat nasional,” ujarnya.

Ia berharap semangat penyelenggaraan kompetisi seperti ini terus berkembang dan menjadi pemantik bagi munculnya turnamen-turnamen baru di berbagai daerah.

“Semoga turnamen ini menjadi pemantik bagi turnamen-turnamen lainnya di NTT, untuk membawa olahraga kita ke tingkat yang lebih baik dan membanggakan,” kata Vicko.

Sementara itu, Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT menegaskan bahwa NTT sesungguhnya tidak kekurangan talenta bola voli. Persoalan yang perlu terus dijawab adalah bagaimana menyediakan lebih banyak panggung kompetisi bagi para atlet.

“NTT tidak kekurangan talenta bola voli. Yang kita perlukan adalah lebih banyak panggung. SMSI Cup I adalah salah satu panggung itu,” tegasnya.

Menurutnya, sebuah turnamen tidak boleh hanya dilihat dari siapa yang menjadi juara dan siapa yang kalah.

“Dari lapangan ini kita mencari pemain. Kita memberi jam terbang. Kita menguji mental bertanding. Kita melihat pelatih bekerja. Kita membangun kualitas wasit. Kita memperkuat klub. Dan yang paling penting, kita sedang membangun ekosistem bola voli NTT,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada SMSI NTT karena mengambil bagian langsung dalam pembangunan olahraga.

Menurutnya, selama ini wartawan lebih banyak berada di pinggir lapangan untuk mengambil gambar, menulis berita dan memberitakan pertandingan. Namun melalui SMSI Cup, media mengambil peran lebih jauh dengan ikut menciptakan ruang kompetisi.

“Hari ini wartawan tidak hanya memberitakan voli. Wartawan ikut membangun voli,” katanya.

Ketua Umum PBVSI NTT menegaskan bahwa persiapan menuju PON XXII NTT–NTB 2028 tidak boleh baru dimulai ketika pesta olahraga nasional tersebut berlangsung.

“Bagi kami di PBVSI, PON 2028 tidak dimulai pada tahun 2028. PON 2028 sudah dimulai hari ini,” tegasnya.

Ia mengatakan setiap turnamen yang diselenggarakan, setiap atlet yang ditemukan, setiap pelatih yang ditingkatkan kualitasnya, serta setiap pertandingan yang dikelola dengan baik merupakan bagian dari perjalanan menuju PON 2028.

“Kita tidak ingin NTT hanya sukses menjadi tuan rumah. Kita ingin menjadi tuan rumah yang juga mampu naik podium,” ujarnya.

Menurutnya, SMSI Cup dan berbagai kompetisi lainnya harus ditempatkan sebagai bagian dari proses panjang untuk membangun atlet yang memiliki pengalaman, mental dan kualitas bertanding.

Pesan senada disampaikan Dr. Alfonsus Theodorus, S.T., M.T., Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTT sekaligus Sekretaris KONI NTT.

Ia menegaskan bahwa pengalaman bertanding dan kompetisi yang berkelanjutan merupakan bagian penting dalam membentuk atlet berprestasi.

Ia menyebut dalam hampir satu tahun, dari dua kegiatan, telah dihasilkan sebanyak 37 medali. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan dan komitmen dalam memajukan olahraga bola voli NTT.

“Ini menunjukkan suatu kemajuan besar dan komitmen kita yang ada saat ini untuk memajukan olahraga bola voli di NTT,” ujarnya.

Ia mengingatkan para atlet agar tidak berharap prestasi dapat diraih secara instan.

“Atlet harus mendapatkan pengalaman yang banyak. Tanpa pengalaman, tanpa kompetisi, prestasi itu menjadi sia-sia. Tidak ada juara yang datangnya instan. Juara itu datang dari proses panjang dan berdarah-darah,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta para atlet muda memanfaatkan setiap kompetisi sebagai ruang untuk belajar, meningkatkan kemampuan dan membangun mental bertanding.

“Masa depan bola voli NTT ada di tanganmu. Berjuang terus,” pesannya.

Ia juga menyoroti kesiapan NTT menghadapi PON 2028. Menurutnya, keberhasilan sebagai tuan rumah tidak cukup hanya diukur dari suksesnya penyelenggaraan. NTT juga harus mempersiapkan atlet agar mampu bersaing dan meraih prestasi.

“Kita tidak hanya sukses penyelenggaraan, kita harus sukses prestasi!” tegasnya.

Ia mengapresiasi perkembangan kualitas sumber daya manusia dalam cabang olahraga bola voli, termasuk para pelatih dan wasit yang telah memiliki lisensi.

“Baik para wasit maupun para pelatih, itu menunjukkan ada sesuatu kemajuan baru di cabang bola voli ini. Saya berharap sekali ini terus kita jaga,” katanya.

Menurutnya prestasi atlet tidak dapat dipisahkan dari proses kaderisasi dan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Saya yakin prestasi atlet-atlet kita akan muncul dari sebuah kaderisasi dan pembinaan yang kita siapkan,” ujarnya.

Selain mengejar prestasi, Ia mengingatkan pentingnya membangun kompetisi yang bermartabat.

“Kita harus membangun suasana kompetisi yang bermartabat. Sportivitas harus menjadi bagian dari proses kompetisi. Setiap pertandingan harus menghasilkan evaluasi,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan agar para atlet tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi menjadikan setiap pertandingan sebagai proses meningkatkan kualitas diri.

“Kemenangan itu penting, tetapi yang lebih penting adalah apakah setelah bertanding kamu menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah teknikmu semakin baik? Apakah fisikmu semakin kuat? Apakah disiplinmu semakin baik? Apakah mental bertandingmu meningkat?”bebernya.

Selain aspek prestasi, Ketua Umum PBVSI NTT melihat kompetisi bola voli memiliki potensi untuk mendorong pergerakan ekonomi dan pariwisata daerah.

Menurutnya, ketika kompetisi hidup dan penonton datang, berbagai sektor ekonomi ikut bergerak, mulai dari UMKM, transportasi, hotel hingga kuliner.

“Voli bukan hanya soal prestasi olahraga. Kalau kompetisi hidup, penonton datang. Ketika penonton datang, UMKM bergerak, transportasi bergerak, hotel dan kuliner bergerak,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari sport tourism yang perlu mulai dibangun di NTT.

“Di situlah olahraga bertemu dengan ekonomi dan pariwisata. Inilah sport tourism yang harus mulai kita bangun dari sekarang,” katanya.

Ketua Umum PBVSI NTT berharap SMSI Cup tidak berhenti pada penyelenggaraan edisi pertama, tetapi dapat berkembang menjadi agenda tahunan dan masuk dalam kalender kompetisi bola voli NTT.

“Biarlah ini tumbuh menjadi agenda tahunan, menjadi salah satu kalender kompetisi penting bola voli NTT,” harapnya.

Harapan tersebut sejalan dengan pandangan Vicko Patty yang mendorong agar kompetisi olahraga pelajar terus diperluas.

Ia mengajak seluruh peserta untuk bertanding dengan penuh semangat, menjunjung nilai-nilai olahraga dan menunjukkan kemampuan terbaik di lapangan.

“Kemenangan memang penting, tetapi pengalaman dan persahabatan yang terjalin adalah hal yang jauh lebih berharga,” ujarnya.(Fendi)