Sekretariat : Jl. Keramat Jati, Nomor 15, Kelurahan Tofa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - NTT
Satgas PON 2028 Mulai Bergerak : PBVSI NTT Targetkan Voli Naik Kelas

Kupang, PBVSINTT.com — Satuan Tugas (Satgas) Persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai bergerak. Hal itu ditandai dengan rapat perdana Satgas yang berlangsung di Sekretariat PBVSI NTT, Minggu (6/9/2026).
Rapat tersebut menjadi langkah awal untuk mematangkan persiapan cabang olahraga bola voli NTT menuju PON XXII Tahun 2028.
Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT, Winston Neil Rondo, dalam sambutan pengantar rapat menegaskan bahwa Surat Keputusan (SK) pembentukan Satgas bukan sekadar kumpulan nama, tetapi merupakan pembagian tanggung jawab untuk memastikan seluruh proses persiapan menuju PON 2028 berjalan sejak dini.
“SK ini bukan sekadar kumpulan nama. SK ini adalah pembagian tanggung jawab. Nama kita sudah tertulis. Bidang kita sudah dibagi. Sekarang pertanyaannya hanya satu: apa yang akan kita kerjakan dari sekarang sampai PON 2028?” tegasnya.
Menurutnya, PON XXII Tahun 2028 sangat penting bagi NTT. Selain sebagai peserta, NTT juga menjadi bagian dari tuan rumah penyelenggaraan. Karena itu, PBVSI NTT memikul dua tanggung jawab sekaligus, yakni sukses prestasi dan sukses penyelenggaraan.
Untuk mencapai target prestasi, Ia menegaskan persiapan tidak bisa dilakukan secara mendadak.
“Kita tidak bisa mulai bekerja enam bulan sebelum PON. Kita harus mulai sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, membangun tim bola voli yang kuat membutuhkan proses panjang, mulai dari mencari atlet, melakukan seleksi, latihan, pengukuran kondisi fisik, pembenahan teknik dan taktik, pembangunan mental bertanding, penguatan pelatih, mengikuti kompetisi hingga memastikan atlet berada pada peak performance ketika PON berlangsung.
Ia mengatakan, hal tersebut menjadi alasan Satgas Persiapan PON dibentuk.
Dalam SK, Satgas memiliki tugas melakukan perencanaan, koordinasi, pengendalian, monitoring, evaluasi dan pelaporan seluruh program persiapan bola voli menuju PON 2028.
“Artinya Satgas ini bukan panitia kegiatan. Satgas ini adalah dapur strategi PBVSI NTT menuju PON 2028,” katanya.
Satgas memiliki delapan bidang kerja, yakni pembinaan prestasi; talent scouting dan seleksi; kepelatihan dan sport science; voli pasir; sarana-prasarana, venue dan peralatan; administrasi, pendanaan dan kemitraan; media dan publikasi; serta sukses acara, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Seluruh bidang tersebut, kata Winston, harus bergerak sebagai satu sistem.
Ia tidak ingin pembinaan atlet, talent scouting, kepelatihan maupun pendanaan berjalan sendiri-sendiri.
“Atlet, pelatih, kompetisi, sport science, venue, anggaran, sponsor dan publikasi harus dirancang dalam satu roadmap yang sama,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, Ia meminta Satgas segera menyusun grand design dan roadmap PBVSI NTT menuju PON 2028.
Setiap tiga atau enam bulan harus memiliki target yang jelas dan terukur, mulai September 2026 hingga PON 2028.
Selain itu, pemetaan atlet harus segera dilakukan secara lebih luas. PBVSI NTT tidak boleh hanya melihat atlet yang sudah dikenal, tetapi harus aktif mencari talenta hingga ke kabupaten-kabupaten.
“Atlet muda yang hari ini mungkin belum terkenal bisa jadi dua tahun lagi menjadi kekuatan NTT. Talent scouting tidak boleh menunggu atlet datang kepada PBVSI. PBVSI yang harus mencari atlet,” tegasnya.
Ia juga mendorong pembinaan atlet berbasis data dengan mulai menerapkan pendekatan sport science.
Kondisi fisik, tinggi badan, jumping reach, kekuatan, endurance, kesehatan, gizi dan perkembangan atlet harus memiliki data yang dapat dipantau.
“Kita tidak boleh lagi memilih atlet hanya karena ‘kelihatannya bagus bermain’,” ujarnya.
Ia juga meminta Satgas menyiapkan jalur kompetisi bagi atlet. Menurutnya, atlet tidak mungkin berkembang hanya dengan latihan.
Turnamen-turnamen bola voli yang berkembang di NTT harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem pembinaan sekaligus ruang talent scouting.
Di sisi lain, aspek pembiayaan juga harus mulai dipikirkan sejak sekarang. Persiapan PON membutuhkan biaya besar sehingga PBVSI NTT perlu membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
“Jangan seluruh beban kita letakkan kepada pemerintah. Satgas harus mampu membangun kemitraan dengan pemerintah, KONI, dunia usaha, BUMN, BUMD, sponsor dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap olahraga,” katanya.
Ia juga meminta setiap bidang tidak membuat terlalu banyak program. Program yang disusun harus konkret, terukur dan dapat dieksekusi.
Setiap bidang wajib menyusun rencana kerja, target, indikator capaian dan laporan.
“Jadi kita harus bisa menjawab: apa yang dikerjakan, siapa yang mengerjakan, kapan selesai, berapa kebutuhannya, dan apa ukuran keberhasilannya,” jelasnya.
Ia menegaskan, PBVSI NTT tidak ingin sekadar mengirim tim untuk memenuhi daftar peserta PON 2028.
“Kita ingin datang sebagai tim yang diperhitungkan,” katanya.
Ia menegaskan, apabila NTT ingin berdiri di podium pada PON 2028, maka proses menuju podium harus mulai dibangun sejak sekarang.
“Tidak ada medali yang lahir secara tiba-tiba. Medali lahir dari ribuan jam latihan, seleksi yang benar, pelatih yang baik, kompetisi yang cukup, manajemen yang disiplin dan kerja panjang yang sering tidak terlihat publik,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Ia menyerahkan proses kerja Satgas kepada Ketua Satgas Kompol Januarius Seran, Wakil Ketua Ivan R. Rondo, dan Sekretaris Marthinus Mangi, bersama seluruh koordinator dan anggota bidang.
“Mari kita jadikan Satgas ini tim kecil dengan pekerjaan besar. Bukan banyak rapat, tetapi banyak hasil. Bukan banyak rencana, tetapi jelas targetnya,” tegasnya.(Fendi)


